BLOG

Artikel & Berita.

Ketika Guru Lebih Sibuk Mengisi Aplikasi Daripada Mengisi Hati Siswa

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 23.15 WIB.

Di sebuah ruang tengah yang sepi, Bu Nani (bukan nama sebenarnya, tapi kita semua pasti kenal sosok ini) masih terpaku di depan laptopnya. Matanya perih menahan kantuk. Di samping laptop, secangkir kopi yang sudah dingin terabaikan.

Beberapa meter darinya, anaknya tertidur di sofa—menunggu ibunya yang janji akan membacakan dongeng, tapi tak kunjung datang karena sang ibu “tanggung sedikit lagi”.

Apa yang sedang Bu Nani kerjakan? Apakah ia sedang merancang metode mengajar yang seru untuk besok pagi? Apakah ia sedang memikirkan cara agar Budi, muridnya yang pemalu itu, berani maju ke depan kelas?

Bukan.

Bu Nani sedang sibuk mengecilkan ukuran file PDF, mengubah format laporan, dan meng-upload “Bukti Dukung” ke dalam sebuah aplikasi platform pendidikan. Jantungnya berdegup bukan karena semangat mengajar, tapi karena takut deadline administrasi berstatus “Merah”.

Malam itu, Bu Nani sukses. Status di aplikasinya berubah menjadi hijau. Centang Biru didapatkan. Secara sistem, ia adalah guru yang profesional.

Tapi saat mematikan laptop dan melihat wajah anaknya yang tertidur pulas di sofa, hati kecilnya bertanya: “Apakah ini yang dicita-citakan Ki Hajar Dewantara?”

Jebakan “Administrasi Digital”

Selamat datang di Dapur Pendidikan kita hari ini. Tempat kita membedah realita yang pahit tapi perlu dibicarakan.

Kita tidak bisa menutup mata bahwa digitalisasi pendidikan adalah niat yang baik. Pemerintah butuh data, butuh pemetaan, dan butuh standarisasi. Itu wajar. Namun, masalah muncul ketika alat menjadi tujuan.

Saat ini, kita sedang mengalami pergeseran nilai yang diam-diam mengerikan. Definisi “Guru Hebat” perlahan bergeser:

  • Dulu, guru hebat adalah yang muridnya paham dan berkarakter.
  • Sekarang, guru hebat adalah yang adminstrasinya lengkap dan sertifikat webinarnya berderet.

Fenomena ini menciptakan apa yang saya sebut sebagai “Administrative Burnout”. Guru lelah bukan karena mengajar, tapi lelah karena membuktikan bahwa mereka sudah mengajar.

Yang Tidak Bisa Di-Upload ke Cloud

Di sinilah letak ironinya. Hal-hal terpenting dalam pendidikan justru adalah hal-hal yang tidak punya format file.

Bisakah kita meng-upload binar mata siswa yang akhirnya paham Matematika setelah dijelaskan berulang kali?

Adakah kolom di aplikasi untuk melampirkan rasa sabar guru saat menenangkan siswa yang menangis karena di-bully?

Bisakah PDF “Bukti Dukung” merekam getaran suara guru yang memotivasi muridnya yang putus asa?

Tidak ada.

Semua momen magis di ruang kelas itu—yang sebenarnya adalah inti dari pendidikan—tidak terdeteksi oleh algoritma. Akibatnya, hal-hal tersebut seringkali dianggap “tidak ada” atau “tidak penting” karena tidak menambah poin kinerja.

Guru pun terjebak dalam dilema: Fokus pada murid (tapi dianggap tidak perform di aplikasi) atau fokus pada aplikasi (tapi murid hanya dapat sisa-sisa energi gurunya).

Berdamai dengan Realita (Tanpa Kehilangan Jiwa)

Llalu, apa yang harus kita lakukan? Memberontak? Mogok mengisi aplikasi? Tentu tidak senaif itu. Kita butuh gaji, kita butuh status kepegawaian, dan kita hidup dalam sistem.

Namun, melalui tulisan ini, saya ingin mengajak rekan-rekan guru di Jeda Jam Kosong ini untuk menata ulang mindset:

  1. Aplikasi Hanyalah Alat, Bukan Tuhan.
    Kerjakan administrasi sebagai kewajiban profesi, gugurkan kewajibannya. Tapi jangan biarkan status “Hijau” atau “Merah” di layar mendefinisikan harga diri Anda sebagai pendidik.
  2. Simpan Energi Terbaik untuk Kelas.
    Jangan habiskan 100% baterai Anda di depan laptop. Sisakan energi terbaik, senyum termanis, dan kesabaran terluas untuk tatap muka dengan siswa besok pagi. Karena bagi siswa, aplikasi itu tidak ada gunanya. Yang mereka butuhkan adalah kehadiran Anda yang utuh.
  3. Berhenti Merasa Bersalah.
    Jika administrasi Anda belum sempurna tapi murid Anda bahagia belajar dengan Anda, Anda sudah berhasil.

Penutup

Untuk Bapak/Ibu guru yang mungkin membaca tulisan ini sambil curi-curi waktu di sela mengisi e-Kinerja atau PMM, tarik napas panjang.

Tutuplah laptopmu sejenak. Minumlah air putih.

Sistem mungkin menilai kita dari dokumen yang kita unggah. Tapi sejarah akan menilai kita dari manusia-manusia yang kita didik. Dan percayalah, murid-muridmu tidak akan mengenang seberapa rapi RPP-mu, mereka akan mengenang seberapa tulus hatimu.

Selamat beristirahat. Besok adalah hari baru untuk kembali menjadi manusia, bukan robot administrasi.


Pojok Diskusi:

Apa administrasi yang paling menyita waktu Bapak/Ibu minggu ini? Dan apa yang biasanya jadi “korban” (waktu keluarga/waktu istirahat)? Ceritakan di kolom komentar, mari kita berkeluh kesah dengan elegan.

Bagikan artikel ini:
Facebook
Twitter
LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

PENULIS
Kamal
FOLLOW ON
IKUTI & BERLANGGANAN